Xendit Identifikasi Tantangan Checkout dan Kesiapan Pembayaran E-Commerce di Indonesia

Belanja online di Indonesia tidak semata-mata tentang memilih produk dan menyelesaikan transaksi. Dalam laporan terbaru dari Xendit mengenai E-Commerce Payment Momentum Report 2026, terungkap fakta mengejutkan bahwa lebih dari 50% pembeli online di tanah air pernah membatalkan pembelian mereka karena metode pembayaran yang diinginkan tidak tersedia. Simon Torring, Co-Founder Cube, menyatakan bahwa Indonesia memiliki tingkat hambatan pembayaran tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara yang disurvei. Penelitian ini melibatkan 6.000 responden dari enam negara di Asia Tenggara, dengan 1.000 di antaranya berasal dari Indonesia, dan didukung oleh data pembayaran Xendit serta wawancara dengan pemimpin di bidang bisnis dan keuangan.
Tantangan Checkout E-Commerce di Indonesia
Meskipun menghadapi berbagai tantangan saat proses checkout, konsumen Indonesia telah beradaptasi dengan berbagai metode pembayaran. Menariknya, 70% responden mengandalkan dompet digital atau e-wallet untuk transaksi belanja online mereka, sebuah angka yang paling tinggi di kawasan Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia mulai beralih ke solusi pembayaran digital meskipun masih ada tantangan yang signifikan.
Metode Pembayaran yang Populer
Di samping penggunaan dompet digital, transfer bank juga tetap menjadi pilihan penting. Sekitar 52% responden menunjukkan tingkat penggunaan transfer bank yang tinggi, sementara 40% masih memilih metode pembayaran tunai saat barang diterima (cash on delivery atau COD). Simon menjelaskan bahwa meskipun penggunaan COD mulai berkurang, Indonesia dan Filipina tetap menjadi negara yang mempertahankan metode ini. “Konsumen mulai beralih dari cash on delivery, tetapi Indonesia dan Filipina masih mengandalkan metode ini. Saya perkirakan penggunaan COD akan semakin menurun di masa depan,” jelasnya.
Pertumbuhan Pembayaran Digital
Perkembangan pembayaran digital juga terlihat dari meningkatnya penggunaan kode QR. Christopher Chan, Head of Global Sales Xendit, menyebutkan bahwa pembayaran menggunakan QR, yang dapat diakses melalui dompet digital maupun rekening bank, telah meningkat sebesar 42%. Kebiasaan membayar dengan QR di toko fisik membantu konsumen beradaptasi dengan pengalaman pembayaran serupa saat berbelanja online. Selain itu, pertumbuhan bank digital turut memperluas akses ke layanan pembayaran digital, mengingat penggunaan pembayaran tunai yang semakin menurun.
Kebutuhan Pembayaran Beragam di Berbagai Wilayah
Kebutuhan akan metode pembayaran bervariasi di setiap wilayah. Christopher menjelaskan bahwa virtual account masih menjadi pilihan utama bagi konsumen dan pelaku usaha yang berada di Jakarta, sementara penerimaan kartu menjadi penting bagi bisnis tertentu di Bali, terutama untuk penjualan tiket acara besar. “Data kami menunjukkan bahwa pembeli di Jakarta lebih memilih virtual account. Dalam segmen ini, penerimaan kartu secara nasional dianggap sangat krusial dan perlu dioptimalkan,” ujarnya.
Kesiapan Infrastruktur Pembayaran di Kalangan Pelaku Usaha
Beralih ke sisi pelaku usaha, perubahan perilaku konsumen dan pertumbuhan e-commerce mengharuskan kesiapan infrastruktur pembayaran. Namun, laporan dari Xendit mengungkapkan bahwa hanya 12% pemimpin bisnis yang merasa bahwa sistem pembayaran mereka benar-benar siap untuk menghadapi kebutuhan 10 tahun ke depan. “Satu angka menarik lainnya adalah hanya 12% dari mereka yang menyatakan bahwa infrastruktur pembayaran mereka benar-benar siap untuk 10 tahun ke depan,” tambah Christopher.
Pertumbuhan E-Commerce di Asia Tenggara
Simon juga menyoroti pentingnya kesiapan infrastruktur pembayaran. Ia memperkirakan nilai penjualan e-commerce barang fisik di Asia Tenggara akan melampaui USD 200 miliar pada tahun 2026 dan bisa mencapai lebih dari USD 400 miliar pada tahun 2031. Proyeksi ini mencakup seluruh kawasan Asia Tenggara, bukan hanya Indonesia. Sekitar seperempat dari total belanja ritel di kawasan ini telah beralih ke e-commerce, meskipun tidak menghitung pembelian besar seperti mobil dan suku cadang.
Perubahan Dinamika E-Commerce
Pertumbuhan beberapa platform besar juga memengaruhi proyeksi perkembangan e-commerce di kawasan ini. Sebelumnya, pertumbuhan e-commerce Asia Tenggara diperkirakan berada di kisaran 15-16% per tahun. Namun, Simon mencatat bahwa pertumbuhan tiga platform besar pada kuartal pertama dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu mencapai 33%. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika di sektor e-commerce sangat cepat berubah dan pelaku usaha perlu beradaptasi agar tetap relevan.
Strategi untuk Mengatasi Tantangan Checkout
Untuk mengatasi tantangan checkout yang dihadapi konsumen, pelaku usaha perlu memikirkan beberapa strategi. Menerapkan metode pembayaran yang beragam menjadi langkah awal yang krusial. Dengan memahami preferensi dan kebiasaan pembayaran konsumen, bisnis dapat menawarkan pilihan yang tepat untuk meningkatkan pengalaman berbelanja.
- Menawarkan lebih banyak pilihan pembayaran, termasuk dompet digital, transfer bank, dan COD.
- Meningkatkan kecepatan dan keamanan proses checkout untuk mengurangi tingkat pengabaian keranjang belanja.
- Melakukan edukasi kepada konsumen mengenai berbagai metode pembayaran yang tersedia.
- Memanfaatkan teknologi pembayaran terbaru, seperti QR code, untuk memudahkan transaksi.
- Memantau dan menganalisis data transaksi untuk memahami tren dan preferensi konsumen.
Dengan menerapkan strategi-strategi ini, pelaku bisnis e-commerce di Indonesia dapat mengoptimalkan proses checkout dan mengurangi tingkat pengabaian transaksi, serta meningkatkan kepuasan pelanggan. Meskipun tantangan tetap ada, dengan pemahaman yang baik tentang kebutuhan konsumen dan kesiapan infrastruktur, peluang untuk pertumbuhan di sektor e-commerce tetap terbuka lebar.
➡️ Baca Juga: Luka Doncic Cedera Paha, Lakers Kalah Telak dari Thunder dengan Skor 96-139
➡️ Baca Juga: Pemprov Lampung Tingkatkan Kesiapsiagaan Destana Menghadapi Erupsi Anak Krakatau



