Tingkatkan Jumlah Pengunjung Museum Melalui Penguatan Kompetensi Pengelola yang Efektif

Jakarta – Dalam upaya mendongkrak jumlah pengunjung museum, penting untuk memfokuskan perhatian pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang mengelola museum di berbagai daerah. Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menekankan perlunya penguatan kompetensi pengelola museum untuk mengatasi disparitas dalam kualitas pengelolaan museum di Indonesia.
Pentingnya Pengelolaan Museum yang Berkualitas
Pada momen peringatan Hari Museum Indonesia, Lestari menyampaikan bahwa perbedaan dalam pengelolaan antara museum yang dikelola secara nasional dan yang berada di daerah masih menjadi tantangan besar. Kualitas pengelolaan yang tidak merata ini memerlukan perhatian khusus agar semua museum dapat berfungsi secara optimal.
“Indonesia memiliki banyak gedung museum, namun yang terpenting adalah memiliki SDM yang memahami cara mengelola, menarasikan, dan menjaga agar warisan budaya tetap relevan bagi generasi mendatang,” ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun infrastruktur tersedia, keberhasilan museum sangat bergantung pada kemampuan pengelolanya.
Statistik Museum di Indonesia
Berdasarkan informasi dari Kementerian Kebudayaan, hingga April 2026, Indonesia tercatat memiliki 516 museum. Dari jumlah tersebut, sekitar 373 museum atau 72,3 persen sudah terdaftar, sementara 234 museum atau 45,3 persen telah memenuhi standar pengelolaan dalam kategori A, B, atau C.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun ada kemajuan dalam registrasi dan standardisasi museum, masih ada ruang yang luas untuk perbaikan dalam hal pengelolaan dan kualitas layanan yang ditawarkan kepada pengunjung museum.
Kompetensi Pengelola: Kunci Utama dalam Revitalisasi Museum
Lestari menekankan bahwa peningkatan kualitas museum tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik dan perbaikan sarana. Yang lebih penting adalah penguatan kompetensi pengelola museum itu sendiri. Pengelola yang terampil akan mampu menyusun tata pamer yang baik, mengembangkan narasi koleksi, serta menyajikan informasi sejarah dan kebudayaan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Aspek-Aspek Keterampilan yang Diperlukan
Beberapa keterampilan yang perlu dikuasai oleh pengelola museum antara lain:
- Penyusunan tata pamer yang efektif.
- Pengembangan narasi koleksi yang menarik.
- Penyajian informasi sejarah yang mudah dipahami.
- Strategi pemasaran untuk menarik pengunjung.
- Pengelolaan anggaran yang efisien.
Keterbatasan dalam kapasitas pengelolaan di museum daerah dapat berdampak negatif terhadap efektivitas penggunaan anggaran revitalisasi. Tanpa pemahaman yang baik tentang tata kelola dan substansi permuseuman, alokasi anggaran berpotensi lebih banyak digunakan untuk pembangunan fisik daripada peningkatan kualitas layanan dan penyajian koleksi.
Pentingnya Pendampingan Profesional
Oleh karena itu, Lestari mendorong adanya dukungan dari institusi yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan museum. Pendampingan ini sangat penting agar pengembangan museum dapat dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip permuseuman yang baik sambil mempertimbangkan karakteristik sejarah dan budaya masing-masing daerah.
Revitalisasi Museum yang Berkelanjutan
Pemerintah telah merencanakan revitalisasi hampir 200 museum dan cagar budaya yang berlangsung hingga 2026. Salah satu fokus utama dari revitalisasi ini adalah memperbaiki ruang pamer agar lebih menarik bagi generasi muda. Namun, Lestari menekankan bahwa perbaikan fasilitas harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas pengelola. Tanpa adanya peningkatan dalam aspek ini, revitalisasi hanya akan menghasilkan perubahan fisik tanpa membawa manfaat yang signifikan bagi pengunjung.
Keterlibatan Komunitas dan Media
Anggota Komisi X DPR RI tersebut juga menggarisbawahi pentingnya peran komunitas dan media dalam menjaga keberlanjutan museum serta situs cagar budaya. Keterlibatan aktif dari masyarakat akan membantu menciptakan minat yang lebih besar terhadap museum dan meningkatkan jumlah pengunjung museum secara keseluruhan.
Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, museum tidak hanya menjadi tempat untuk menyimpan sejarah, tetapi juga menjadi ruang interaktif yang dapat membangun kesadaran budaya di kalangan generasi muda. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa warisan budaya Indonesia dapat terus hidup dan berkembang.
Dalam rangka menarik lebih banyak pengunjung museum, penting untuk terus menerus meningkatkan kualitas pengelolaan dan memperluas jaringan kolaborasi dengan berbagai pihak. Melalui langkah-langkah tersebut, museum dapat menjadi destinasi yang tidak hanya informatif tetapi juga menginspirasi bagi semua kalangan.
➡️ Baca Juga: Wali Kota Bandung Sebut Bandung World Cinema 2026 Dukung Ekosistem Perfilman dan Ekonomi Kreatif
➡️ Baca Juga: Kemdiktisainstek: Memperkuat Riset Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim untuk Masa Depan




