Survei Segara: Fleksibilitas Menjadi Faktor Utama Pekerja Memilih Ekonomi Gig

Jakarta – Saat ini, pengaturan pekerja yang beroperasi melalui platform digital harus mempertimbangkan karakteristik unik dari model pekerjaan ini. Meskipun perlindungan sosial, keselamatan, dan kepastian hak bagi pekerja tetap menjadi prioritas, penting untuk merancang kebijakan yang tidak menghilangkan fleksibilitas dan peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan.
Fleksibilitas dalam Ekonomi Gig
Pernyataan tersebut disampaikan dalam seminar publik bertajuk “Masa Depan Gig dan Ekonomi Platform di Indonesia” yang diadakan oleh Segara Research Institute di Jakarta pada tanggal 2 Oktober 2026. Dalam seminar ini, berbagai pembicara yang berasal dari kalangan akademis, peneliti, asosiasi industri, dan komunitas mitra pengemudi membahas dampak regulasi terhadap pekerja platform, investasi, serta perkembangan ekonomi digital di Indonesia.
Diskusi dalam seminar tersebut mendorong usulan agar pekerja dalam ekonomi gig diatur melalui kerangka regulasi yang terpisah, tidak hanya menjadi bagian dari Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Ketenagakerjaan yang ada.
Beragam Model Pekerjaan
Salah satu alasan yang mendasari usulan ini adalah beragamnya model pekerjaan dalam ekonomi platform. Pekerjaan dalam sektor ini mencakup berbagai bidang, seperti transportasi dan pengantaran daring, e-commerce, pertanian berbasis teknologi, pendidikan digital, layanan kesehatan, jasa rumah tangga, dan pekerjaan freelance, hingga kreator konten.
Perbedaan dalam model bisnis, pola penghasilan, tingkat ketergantungan terhadap platform, serta kebebasan untuk menentukan waktu kerja menunjukkan bahwa pendekatan regulasi yang seragam mungkin tidak sesuai untuk semua jenis pekerjaan tersebut.
Karakteristik Pekerjaan yang Berbeda
Menurut Piter Abdullah, Policy and Program Director di Prasasti Center for Policy Studies, penting untuk memahami karakter dari hubungan kerja yang terjadi sebelum merumuskan perlindungan bagi pekerja platform. Dia menegaskan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pekerja formal, mitra platform, kontraktor independen, dan pekerja berbasis proyek.
Beberapa mitra platform, misalnya, memiliki kemampuan untuk menentukan sendiri kapan dan berapa lama mereka bekerja, serta jenis pekerjaan yang ingin mereka ambil. “Kita perlu melihat karakteristik pekerjaan terlebih dahulu. Ada yang bebas menentukan kapan bekerja, berapa lama bekerja, dan pekerjaan mana yang ingin diambil. Ini jelas berbeda dari hubungan kerja konvensional,” ungkap Piter dalam keterangan tertulisnya pada tanggal 3 Oktober.
Dia menambahkan bahwa meskipun perlindungan sosial, keselamatan, transparansi, dan mekanisme penyelesaian masalah perlu diperkuat, bentuk perlindungan tersebut tidak selalu harus disertai dengan perubahan status mitra menjadi pekerja dalam hubungan kerja formal atau penerapan hak dan kewajiban yang menyerupai hubungan kerja tersebut.
Desain Perlindungan yang Fleksibel
“Tujuannya tetap pada perlindungan. Namun, desain perlindungannya harus mengikuti karakter pekerjaan. Jika bentuk hubungan dan cara kerja berbeda, kita perlu berhati-hati agar regulasinya tidak memaksakan satu model untuk semua,” jelasnya.
Isu ini juga berkaitan dengan bagaimana kebijakan dapat memberikan perlindungan yang memadai tanpa mengabaikan variasi pola kerja yang ada. Beberapa individu mungkin bergantung pada platform sebagai sumber penghasilan utama, sedangkan yang lain menggunakannya untuk mendapatkan penghasilan tambahan di luar pekerjaan formal mereka.
Dampak Regulasi terhadap Kesempatan Kerja
Dari sudut pandang ekonomi, YB Kadarusman, Ph.D., Associate Professor di Sekolah Bisnis Universitas Prasetiya Mulya dan Ekonom Senior di Segara Research Institute, mengingatkan bahwa perubahan dalam struktur biaya dan kewajiban yang terkait dengan pekerjaan di platform dapat memengaruhi jumlah orang yang dapat dilibatkan oleh perusahaan.
Dalam konteks ini, penting untuk mempertimbangkan bagaimana kebijakan yang diterapkan tidak hanya melindungi pekerja tetapi juga mendorong pertumbuhan dan inovasi dalam sektor ekonomi gig. Hal ini dapat menciptakan lebih banyak peluang kerja dan mendukung perkembangan ekonomi digital secara keseluruhan.
Keseimbangan antara Perlindungan dan Fleksibilitas
Untuk mencapai keseimbangan antara perlindungan yang memadai dan fleksibilitas yang dibutuhkan pekerja dalam ekonomi gig, diperlukan pendekatan yang inovatif dan adaptif. Kebijakan yang berhasil harus mempertimbangkan karakteristik unik dari berbagai model pekerjaan dan memberikan ruang bagi pekerja untuk beroperasi dengan cara yang paling sesuai bagi mereka.
- Fleksibilitas waktu kerja yang tinggi
- Peluang untuk menghasilkan pendapatan dari beberapa sumber
- Adaptasi terhadap kebutuhan pasar yang cepat berubah
- Inovasi dalam model bisnis yang mendukung pekerja
- Peningkatan keterampilan melalui pelatihan yang relevan
Dengan demikian, regulasi yang diterapkan haruslah bersifat inklusif, memungkinkan pekerja untuk menikmati manfaat dari ekonomi gig, sambil tetap mendapatkan perlindungan yang layak. Ini adalah tantangan yang harus dihadapi oleh para pembuat kebijakan untuk memastikan bahwa ekonomi digital dapat tumbuh dengan berkelanjutan sambil melindungi hak-hak pekerjanya.
Peluang dan Tantangan di Masa Depan
Kedepannya, penting untuk terus mengevaluasi dampak dari kebijakan yang diterapkan terhadap pekerja dalam ekonomi gig. Perkembangan teknologi, perubahan perilaku konsumen, dan dinamika pasar akan terus mempengaruhi cara kerja dalam sektor ini.
Oleh karena itu, pembuat kebijakan, akademisi, dan pelaku industri perlu berkolaborasi untuk menciptakan kerangka yang responsif terhadap perubahan ini. Diskusi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan akan sangat penting untuk menemukan solusi yang efektif dan berkelanjutan.
Inisiatif untuk mendengarkan suara pekerja dan memahami kebutuhan mereka akan menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya melindungi, tetapi juga memberdayakan mereka dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Pentingnya Pendidikan dan Keterampilan
Selain itu, peningkatan pendidikan dan keterampilan bagi pekerja di sektor gig juga menjadi faktor penting. Dengan semakin banyaknya pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus, penting bagi pekerja untuk terus mengembangkan keterampilan mereka agar tetap kompetitif di pasar kerja.
Program pelatihan yang relevan dan akses ke sumber daya pendidikan harus diprioritaskan untuk mendukung pekerja dalam menjalani karir mereka di ekonomi gig. Ini akan membantu mereka untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam ekosistem kerja yang terus berubah.
Kesimpulan
Fleksibilitas dalam ekonomi gig menjadi faktor utama yang mempengaruhi pilihan pekerja. Oleh karena itu, penting bagi kebijakan yang ditetapkan untuk mengakomodasi kebutuhan dan karakteristik unik dari model pekerjaan ini. Dengan pendekatan yang tepat, kita dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak hanya melindungi hak-hak pekerja, tetapi juga mendorong pertumbuhan dan inovasi dalam ekonomi digital.
➡️ Baca Juga: Chery Masuki Pasar Robot dengan Target Penjualan Robot Humanoid Mornine M1
➡️ Baca Juga: 25 Kode Redeem FF Terbaru Tanggal 10 Maret 2026, Dapatkan Skin SG2 Sandstorm Shimmer




