Pawai Ogoh-Ogoh Ambon: Umat Hindu Sampaikan Pesan Damai Menjelang Nyepi dan Lebaran

Pawai ogoh-ogoh di Kota Ambon, yang diadakan oleh umat Hindu di Maluku, membawa pesan kuat tentang perdamaian dan pengendalian diri menjelang perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri. Kegiatan ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga merupakan panggilan untuk introspeksi dan refleksi bagi seluruh umat manusia, di tengah persiapan menyambut dua hari besar yang waktunya berdekatan.
Makna Mendalam di Balik Pawai Ogoh-Ogoh
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Ambon, Doktor Ida Bagus G Dwibawa, mengungkapkan bahwa baik Idul Fitri maupun Nyepi memiliki esensi yang sangat mirip, yaitu ajakan untuk mengendalikan hawa nafsu. “Nyepi adalah tentang pengendalian diri, bukan hanya bagi umat Hindu, tetapi juga untuk seluruh manusia. Ini adalah waktu untuk merenungkan diri dan melakukan introspeksi,” jelasnya.
Simbolisme Ogoh-Ogoh
Ogoh-ogoh, yang diarak dalam pawai ini, melambangkan berbagai sifat negatif yang ada dalam diri manusia, seperti keserakahan, ketamakan, dan emosi yang tidak terkendali. Pawai ini berfungsi sebagai pengingat bagi umat agar menyadari keberadaan sifat-sifat tersebut dan berusaha untuk menghilangkannya.
- Keserakahan
- Ketamakan
- Emosi negatif
- Sifat egois
- Tindakan merugikan orang lain
“Ogoh-ogoh ini merepresentasikan kejahatan dan keserakahan. Kita semua bertanggung jawab untuk menghapusnya agar hidup kita menjadi lebih tenang,” ungkapnya dengan tegas.
Agenda Tahunan yang Mempererat Toleransi
Kegiatan pawai ogoh-ogoh di Ambon telah menjadi tradisi tahunan, yang tidak hanya merayakan ajaran Hindu tetapi juga menciptakan ruang bagi masyarakat lintas agama untuk bersatu. Dalam momen ini, umat Hindu juga membagikan takjil kepada umat Muslim, menunjukkan bentuk toleransi dan kebersamaan yang kental di tengah keragaman budaya Maluku.
Pawai Ogoh-Ogoh yang Istimewa
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyatakan bahwa pawai ogoh-ogoh tahun ini memiliki makna yang lebih istimewa karena bersamaan dengan perayaan Idul Fitri. “Perayaan ini menjadi spesial karena kedekatan waktu antara Nyepi dan Idul Fitri. Antusiasme masyarakat dari berbagai latar belakang sangat terlihat saat mereka menyaksikan pawai,” ujarnya.
Kebersamaan dan Kekuatan Sosial
Gubernur Lewerissa menilai bahwa kegiatan ini merupakan modal sosial yang sangat penting bagi masyarakat Maluku, yang dikenal dengan keragamannya. “Kegiatan ini memperkuat kebersamaan dan menjaga hubungan kita dengan Tuhan, sesama, dan alam sekitar,” tambahnya.
Tujuan Bersama dalam Perayaan
Bagi masyarakat, pawai ogoh-ogoh adalah simbol kekuatan kebersamaan. “Semua memiliki tujuan yang sama, yaitu pengendalian diri, menjaga kedamaian, dan mempererat hubungan antarsesama,” tegasnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan, tujuan untuk hidup berdampingan dengan damai tetap menjadi prioritas.
Harapan untuk Perayaan yang Damai
Pemerintah daerah berharap agar perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri di Maluku dapat berlangsung dengan aman, damai, dan penuh sukacita. Kerukunan antarumat beragama di daerah ini diharapkan semakin terjalin, sehingga setiap perayaan dapat menjadi momen refleksi dan kebersamaan.
Rute Pawai Ogoh-Ogoh di Ambon
Pawai ogoh-ogoh di Ambon dimulai dari pelataran Monumen Gong Perdamaian Dunia dan melintasi sejumlah jalan utama, seperti Jalan DI Panjaitan, Jalan Pattimura, Jalan Ahmad Yani, Jalan Diponegoro, Jalan AM Sangadji, hingga Jalan AY Patty, sebelum berakhir di Lapangan Merdeka. Rute yang dilalui mencerminkan keragaman dan keindahan kota Ambon, serta mengajak masyarakat untuk merayakan bersama.
Perayaan Nyepi Tahun Saka 1948
Perayaan Nyepi Tahun Saka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026 mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga.” Ini menegaskan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam keberagaman yang ada di masyarakat.
Ogoh-Ogoh sebagai Simbol Pembersihan
Ogoh-ogoh merupakan bagian integral dari upacara Tawur Kesanga, yang bertujuan untuk mengusir roh jahat sebelum umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian. Sosok ogoh-ogoh biasanya digambarkan sebagai raksasa atau bhuta, yang melambangkan sifat jahat dan hawa nafsu yang ada dalam diri manusia.
Asal Usul Istilah Ogoh-Ogoh
Istilah ogoh-ogoh berasal dari bahasa Bali “ogah-ogah,” yang berarti digoyang-goyangkan. Dalam tradisi, ogoh-ogoh diarak keliling sebelum dibakar sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan dari unsur-unsur kejahatan. Proses ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sebuah pengingat untuk membersihkan diri dari segala hal negatif.
Dengan semangat pawai ogoh-ogoh ini, diharapkan masyarakat dapat merenungkan kembali makna perdamaian dan pengendalian diri, serta mempererat hubungan antarsesama dalam konteks keberagaman yang ada. Semoga setiap langkah yang diambil dalam perayaan ini membawa dampak positif bagi masyarakat Maluku dan seluruh Indonesia.
➡️ Baca Juga: Pengembangan Pasar Tradisional Jayapura untuk Meningkatkan Perekonomian Lokal
➡️ Baca Juga: Kembalinya Irene Red Velvet sebagai Solois, Album Biggest Fan Dirilis 30 Maret


