IAHN Mpu Kuturan Selenggarakan Metatah Massal Gratis untuk 351 Peserta demi Ringankan Beban Umat

Upacara potong gigi massal yang dikenal sebagai metatah massal gratis kembali digelar oleh Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di Singaraja, Buleleng, Bali. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 30 Agustus 2023, dan diikuti oleh 351 peserta dari berbagai daerah. Melalui inisiatif ini, IAHN Mpu Kuturan berupaya untuk meringankan beban masyarakat Hindu, sekaligus memperkuat ikatan sosial dan spiritual di antara umat.
Peserta yang Beragam
Ritual suci ini menarik perhatian dari berbagai kabupaten di Bali, serta perwakilan dari luar Bali, termasuk Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang menunjukkan betapa pentingnya tradisi ini bagi umat Hindu.
Ketua Panitia Pelaksana, Ida Bhawati Dr. Ketut Agus Nova, menyatakan, “Sebanyak 351 peserta mengikuti upacara metatah ke-10 yang diadakan di Kampus IAHN Mpu Kuturan.” Ini menunjukkan komitmen lembaga dalam memfasilitasi kegiatan spiritual yang bermanfaat bagi masyarakat.
Berbagai Aspek Metatah
Peserta yang terlibat tidak hanya berasal dari Kabupaten Buleleng, tetapi juga dari daerah lain seperti Jembrana, Karangasem, dan Tabanan. Selain itu, ada juga partisipasi dari Kediri dan Blitar, serta Nusa Tenggara Timur, memperlihatkan jangkauan acara ini yang luas.
Metatah merupakan sebuah upacara penting dalam agama Hindu yang melambangkan proses pengendalian sifat-sifat negatif serta menjadi tanda kedewasaan spiritual. Dengan mengikuti tradisi ini, para peserta diharapkan dapat mengatasi aspek-aspek buruk dalam diri mereka dan memperkuat hubungan mereka dengan Yang Maha Kuasa.
Rangkaian Acara Metatah
Proses pelaksanaan metatah dimulai dengan registrasi peserta yang diikuti oleh serangkaian upacara persiapan. Salah satu tahapan awal adalah upacara “penyekeban” atau “magekeb”, yang bertujuan untuk membersihkan diri sebelum menjalani ritual utama.
Dalam prosesi ini, peserta diawali dengan upacara “mabiyakala”, yang berfungsi untuk membersihkan diri dari pengaruh negatif. Kemudian dilanjutkan dengan “durmanggala”, penyucian dari segala hal yang tidak baik, serta “prayascita”, yang merupakan upacara penyucian fisik dan spiritual.
Memohon Anugerah
Setelah tahapan pembersihan, peserta melangsungkan prosesi persembahyangan sebagai bentuk permohonan anugerah kepada Dewaning Tatah, yaitu manifestasi Tuhan yang dipercaya memberikan perlindungan selama pelaksanaan metatah. Ini adalah momen penting yang mencerminkan kesungguhan hati peserta dalam menjalani ritual.
Dalam rangkaian acara selanjutnya, peserta akan melalui tahapan “natab banten menek bajang”. Di sini, mereka menerima dan memohon berkah melalui persembahan dalam upacara yang mengarah pada kedewasaan. Prosesi ini mencakup “ngeraja swala” bagi perempuan dan “ngeraja singa” bagi laki-laki, simbolisasi penting yang menandakan transisi mereka menuju masa dewasa.
Pemotongan Simbolis dan Proses Akhir
Peserta juga menjalani prosesi “mapetik”, di mana pemotongan rambut dilakukan secara simbolis, diikuti dengan “merajah”, yang melibatkan pemberian simbol-simbol suci pada tubuh. Setelah itu, mereka menjalani prosesi metatah di balai yang telah disiapkan, didampingi oleh keluarga masing-masing.
Setelah pelaksanaan prosesi utama, sulinggih akan melakukan “ngarga tirta”, di mana air suci dibuat atau dimohon. Kemudian, upacara “mapedudusan” berlangsung untuk penyucian lebih lanjut. Rangkaian ini diakhiri dengan “natab banten petatahan”, yang merupakan penerimaan berkah dari upacara, dan “pangubaktian”, yaitu persembahyangan sebagai ungkapan bakti kepada Tuhan.
Penutupan yang Khidmat
Acara metatah massal gratis ini ditutup dengan seremonial yang khidmat. Peserta melakukan sembah sungkem, sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua, diikuti dengan pembacaan “Parama Santi”, yang merupakan doa penutup untuk memohon kedamaian dan keselamatan.
Inisiatif seperti ini tidak hanya memperkuat ikatan antarumat, tetapi juga menjadi momen refleksi spiritual yang mendalam bagi semua yang terlibat. Dengan melaksanakan metatah massal gratis ini, IAHN Mpu Kuturan telah menunjukkan dedikasinya dalam mendukung umat Hindu dan menjaga kelestarian tradisi yang kaya ini.
Signifikansi Metatah dalam Kehidupan Umat
Metatah bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga memiliki makna yang dalam dalam kehidupan umat Hindu. Proses ini membantu individu untuk menyadari dan mengendalikan sifat-sifat buruk yang mungkin ada dalam diri mereka. Selain itu, ritual ini juga menjadi simbol transisi dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan, yang diharapkan dapat mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan hidup dengan lebih bijak.
Melalui metatah, umat Hindu juga diajarkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam prosesi yang penuh dengan doa dan harapan ini, peserta diajarkan untuk selalu bersyukur atas segala berkah yang diberikan dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Pentingnya Dukungan Komunitas
Melihat antusiasme peserta yang datang dari berbagai daerah, jelas bahwa dukungan komunitas sangat berperan penting dalam keberhasilan acara ini. Masyarakat yang bersatu dalam semangat yang sama untuk menjaga tradisi dan memperkuat hubungan spiritual antarumat adalah salah satu kunci keberhasilan dari kegiatan ini.
- Keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga tradisi.
- Peningkatan kesadaran spiritual di kalangan umat.
- Penguatan hubungan antaranggota komunitas.
- Pemberian dukungan moral dan spiritual.
- Partisipasi dari berbagai daerah memperkaya pengalaman bersama.
Dengan demikian, metatah massal gratis yang diselenggarakan oleh IAHN Mpu Kuturan bukan hanya sekadar acara ritual, tetapi juga menjadi wadah bagi penguatan komunitas dan pengembangan spiritualitas individu. Kegiatan ini secara keseluruhan menunjukkan betapa pentingnya menjaga warisan budaya dan tradisi agama dalam kehidupan sehari-hari.
Masa Depan Metatah
Dengan keberhasilan acara metatah massal gratis ini, harapan untuk mengadakan kegiatan serupa di masa depan semakin besar. IAHN Mpu Kuturan berkomitmen untuk terus melestarikan tradisi ini dan memastikan bahwa setiap umat memiliki kesempatan untuk menjalani prosesi yang penting ini tanpa beban finansial.
Kegiatan seperti ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga lain untuk melakukan hal yang sama, sehingga lebih banyak umat Hindu yang dapat merasakan manfaat spiritual dari metatah. Selain itu, inisiatif ini juga dapat membantu memperkuat jalinan kerjasama antar komunitas, baik di dalam Bali maupun di luar pulau.
Dalam menjalani kehidupan yang semakin modern, penting bagi kita untuk tetap mengingat akar budaya dan tradisi yang telah diwariskan. Melalui kegiatan seperti metatah massal gratis, kita tidak hanya merayakan warisan budaya, tetapi juga membangun masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang.
Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, diharapkan metatah akan terus menjadi tradisi yang hidup dan berkembang. Ini adalah langkah menuju penguatan identitas budaya dan spiritual yang akan terus dikenang dan dirayakan oleh umat Hindu di Indonesia.
➡️ Baca Juga: Foto: Persiapan Pengoperasian Fungsional Jalan Tol Yogyakarta–Bawen
➡️ Baca Juga: Bikers Playland: Kegiatan Seru Ayah dan Anak Bersama Honda di Tangkal Pinus Lembang




