PISA Temukan Penurunan Komunikasi Remaja dan Orang Tua, Simak 3 Tips Bijak Gunakan AI

Jakarta – Komunikasi yang efektif antara orang tua dan remaja merupakan salah satu aspek krusial dalam mendukung kesehatan mental serta kesejahteraan emosional, terutama di era digital yang semakin berkembang. Menurut data dari Programme for International Student Assessment (PISA) yang disampaikan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), terdapat penurunan signifikan dalam frekuensi diskusi antara siswa Indonesia dan orang tua mengenai masalah yang dihadapi di sekolah. Persentase siswa yang melakukannya setidaknya sekali dalam seminggu mengalami penurunan dari 48 persen pada tahun 2022 menjadi 36 persen pada tahun 2025.
Pentingnya Komunikasi Terbuka dalam Keluarga
Menurunnya angka ini menjadi sinyal bagi keluarga untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, sehingga remaja merasa lebih nyaman untuk berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi. Komunikasi yang terbuka sangat diperlukan, terutama ketika remaja berinteraksi dengan teknologi digital, termasuk dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk belajar, berkreasi, dan menjelajahi ide-ide baru.
Pritta Tyas Mangestuti, seorang Psikolog Klinis dan Keluarga yang juga merupakan Co-Founder Good Enough Parents, menekankan pentingnya orang tua untuk memahami kehidupan sehari-hari remaja, termasuk pengalaman mereka dalam ruang digital. Rasa ingin tahu orang tua terhadap teknologi yang digunakan oleh anak-anak mereka bisa menjadi langkah awal untuk mempererat hubungan serta mendampingi penggunaan AI dengan cara yang bertanggung jawab.
Menciptakan Lingkungan yang Aman
Pritta menyatakan, “Membangun lingkungan yang aman dan mendukung tanpa rasa takut dihakimi adalah fondasi utama dalam hubungan keluarga. Ini juga berlaku saat mendampingi kehidupan digital remaja, termasuk cara mereka memanfaatkan AI. Dengan terus meningkatkan rasa ingin tahu dan menjaga komunikasi yang terbuka, orang tua dapat membangun kepercayaan serta membantu remaja mengembangkan kebiasaan digital yang lebih sehat.”
Tiga Tips Praktis untuk Orang Tua dalam Mengelola Penggunaan AI
Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh setiap 10 Oktober, Pritta memberikan tiga cara praktis bagi orang tua untuk mendampingi remaja dalam penggunaan AI, termasuk platform seperti ChatGPT, dengan lebih bijak dan aman. Langkah-langkah tersebut meliputi penyusunan batasan penggunaan, edukasi mengenai privasi, dan membangun diskusi keluarga tentang teknologi.
1. Bangun Batasan Penggunaan AI yang Sehat Bersama Remaja
Orang tua bisa mulai dengan mengajak remaja berdiskusi mengenai cara mereka berinteraksi dengan teknologi dalam keseharian. Percakapan yang hangat tersebut dapat membantu kedua pihak menyepakati aturan penggunaan AI yang sesuai dengan kebutuhan, baik untuk belajar, beristirahat, maupun menghabiskan waktu bersama keluarga.
Platform ChatGPT menawarkan fitur Pengawasan Orang Tua yang memungkinkan akun remaja terhubung dengan akun orang tua, sehingga orang tua dapat lebih mudah mengelola pengalaman penggunaan. Setelah akun terhubung, orang tua dan remaja dapat sepakat mengenai jadwal Jam Tenang, yang berfungsi untuk membatasi akses pada waktu-waktu tertentu, seperti saat tidur atau saat berkumpul bersama keluarga.
Selain itu, fitur Jam Belajar dapat digunakan untuk mendukung kegiatan akademik remaja. Ketika fitur ini aktif, setiap percakapan baru akan dimulai dalam Mode Belajar, dan fitur Pengingat Istirahat akan mengingatkan pengguna untuk beristirahat setelah menggunakan ChatGPT dalam waktu tertentu.
Untuk mengonfigurasi pengaturan ini, pengguna dapat membuka menu Setelan, memilih Pengawasan Orang Tua, dan menambahkan anggota keluarga untuk menautkan akun orang tua dan remaja. Setelah proses penautan selesai, orang tua bisa memilih akun remaja untuk menyesuaikan pengaturan Jam Tenang dan Jam Belajar.
2. Ajarkan Batasan Privasi dan Interaksi saat Menggunakan AI
Selain mengatur waktu penggunaan, sangat penting bagi orang tua untuk membantu remaja memahami pentingnya menjaga informasi pribadi saat berinteraksi dengan teknologi AI. Edukasi ini mencakup pemahaman tentang informasi yang aman untuk dibagikan, data yang sebaiknya dirahasiakan, dan cara menyusun pertanyaan dengan bijak.
Orang tua juga dapat memanfaatkan pengaturan keamanan yang tersedia di ChatGPT untuk menyesuaikan pengalaman digital dengan kebutuhan remaja. Beberapa pengaturan memungkinkan orang tua untuk menonaktifkan fitur tertentu, seperti Mode Suara dan pembuatan gambar, jika dianggap belum sesuai untuk digunakan oleh anak.
Pengaturan penyaringan konten sensitif juga dapat disesuaikan untuk membantu mengurangi paparan materi yang tidak sesuai untuk usia remaja. Penting untuk menyertakan komunikasi terbuka agar remaja memahami alasan di balik aturan yang diterapkan, sehingga mereka tidak merasa dibatasi dalam menggunakan teknologi.
Untuk melakukan penyesuaian ini, orang tua dapat membuka menu Setelan, masuk ke Pengawasan Orang Tua, dan memilih akun remaja yang telah ditautkan. Dari bagian tersebut, orang tua dapat mengatur penggunaan Mode Suara, pembuatan gambar, serta penyaringan konten sensitif sesuai dengan kebutuhan keluarga.
3. Ajak Remaja Berdiskusi tentang AI dengan Cara Sederhana
Diskusi mengenai AI tidak perlu dilakukan dengan cara yang formal atau menggunakan terminologi teknis yang rumit. Orang tua dapat memulainya dengan mengajukan pertanyaan sederhana tentang pengalaman remaja saat menggunakan AI, manfaat yang mereka rasakan, serta aspek-aspek yang membuat mereka bingung atau merasa tidak nyaman.
Dengan cara ini, orang tua tidak hanya dapat lebih memahami perspektif remaja, tetapi juga menciptakan ruang yang aman bagi mereka untuk berbagi, sehingga komunikasi antara orang tua dan remaja dapat terjalin dengan lebih baik. Melalui pendekatan yang ramah dan terbuka, orang tua bisa membantu remaja mengatasi tantangan yang dihadapi di dunia digital.
Dengan menerapkan tiga tips bijak ini, diharapkan orang tua dan remaja dapat membangun komunikasi yang lebih baik, sekaligus menciptakan pengalaman penggunaan AI yang positif dan bermanfaat bagi perkembangan mereka.
➡️ Baca Juga: Kapal Perpustakaan Doulos Hope Tiba di Jakarta dengan Ribuan Buku untuk Dibaca
➡️ Baca Juga: Nojorono Kudus Melakukan Kunjungan ke Panti Asuhan dan Panti Wredha Selama Momen Natal



