slot depo 10k
Berita

Pawai Ogoh-Ogoh Lintas Etnis di Cimahi Rayakan Toleransi Menyambut Nyepi 1948 Saka

Di tengah keramaian lalu lintas yang menjadi ciri khas Jawa Barat, Kota Cimahi tampil dengan nuansa yang berbeda pada Selasa, 17 Maret 2026. Dua patung raksasa Ogoh-ogoh yang megah berdiri di Lapangan Pussenarhanud, siap untuk diarak sebagai simbol penyucian diri dan alam semesta dalam rangka merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948. Acara ini tidak sekadar ritual keagamaan bagi umat Hindu, tetapi juga mencerminkan semangat keberagaman yang kental di Kota yang dikenal dengan sebutan “Kota Militer” ini.

Pawai Budaya: Merayakan Keragaman

Perayaan kali ini mengangkat tema “Pawai Budaya dan Ogoh-Ogoh Lintas Etnis & Suku,” menjadikannya sebagai wujud nyata dari akulturasi budaya yang ada di Cimahi. Sejak pukul 13.30 WIB, Lapangan Pussenarhanud sudah ramai dipadati oleh warga yang antusias menyaksikan pawai. Agenda acara ini bukan hanya sekadar menampilkan parade religius, tetapi juga menjadi panggung bagi seni dan budaya nusantara.

Parade Seni yang Menyentuh Hati

Acara ini dibuka dengan penampilan sebanyak 119 penari Pendet dari berbagai generasi yang berasal dari Bandung Raya. Mereka memberikan sentuhan sakral sekaligus estetis, menciptakan atmosfer yang magis sebelum rombongan pawai dimulai. Pawai ogoh-ogoh cimahi ini dirancang dengan rute melingkar yang melintasi jantung kota, dimulai dari Lapangan Pussenarhanud, menyusuri Jalan Stasiun Kereta Api, berlanjut ke Jalan Gatot Subroto, dan Jalan Sriwijaya Raya, sebelum kembali ke titik awal.

Keberagaman dalam Pertunjukan

Salah satu daya tarik utama dari pawai ini terletak pada keberagaman penampil yang dihadirkan. Dalam suasana yang meriah, dentuman Gambelan Gong Suling dan Bleganjur bergema, sementara kesenian lokal Jawa Barat, seperti Angklung Buncis dan Sisingaan, turut memperkaya pengalaman. Penampilan Barongsai dari etnis Tionghoa, serta perwakilan budaya dari Dayak, Palembang, hingga Papua, menegaskan bahwa acara ini merupakan milik bersama warga Cimahi.

Momentum Toleransi Budaya

Pawai ini tidak hanya sekadar merayakan Nyepi sebagai hari suci satu golongan, tetapi juga menciptakan momentum bagi semua etnis untuk saling mengenal dan merayakan perbedaan. Melalui ekspresi budaya yang ditampilkan, warga Cimahi diingatkan akan pentingnya toleransi dan saling menghargai di tengah keberagaman.

Ogoh-ogoh dan Kesenian Tradisional

Selain patung Ogoh-ogoh yang menjadi sajian utama, penonton juga disuguhkan Parade Gebogan, Kesenian Ngelawang, hingga Topeng Bondres. Kehadiran Payas Adat Bali dari level Madya hingga Agung menambah kekayaan visual, menggambarkan strata estetika busana tradisional Bali yang dipersembahkan di tanah Pasundan ini.

Persiapan dan Antusiasme Warga

Hingga berita ini diturunkan, persiapan akhir masih dilakukan di area Pussenarhanud. Bagi masyarakat Cimahi dan sekitarnya, pawai ini lebih dari sekadar tontonan; ia menjadi pengingat bahwa di bawah langit Saka 1948, perbedaan etnis bukanlah penghalang, melainkan penguat bagi harmoni sosial yang telah ada. Dengan semangat kebersamaan, pawai ini menjadi simbol persatuan di tengah keragaman.

Rute Pawai yang Menggugah Semangat

Rute pawai yang menyusuri jalan-jalan utama di Cimahi tidak hanya membuat acara ini lebih meriah, namun juga membawa pesan bahwa seni dan budaya adalah jembatan yang dapat menghubungkan berbagai lapisan masyarakat. Dalam perjalanan pawai, masyarakat memiliki kesempatan untuk menyaksikan berbagai pertunjukan seni yang berlangsung di sepanjang jalan.

Pesan Moral di Balik Keseruan

Setiap penampilan dalam pawai membawa pesan moral yang mendalam, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga toleransi dan saling menghargai. Kegiatan ini juga menjadi ajang bagi generasi muda untuk belajar dan menghargai warisan budaya yang ada, dan berpartisipasi aktif dalam menjaga keberagaman.

  • Rute pawai meliputi Jalan Stasiun Kereta Api, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan Sriwijaya Raya.
  • 119 penari Pendet sebagai pembuka acara.
  • Berbagai kesenian lokal Jawa Barat turut ditampilkan.
  • Perwakilan budaya dari etnis Tionghoa, Dayak, Palembang, dan Papua.
  • Pawai ini menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman.

Pawai sebagai Sarana Edukasi

Pawai ogoh-ogoh cimahi tidak hanya berfungsi sebagai perayaan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Dengan menampilkan berbagai kesenian dari berbagai etnis, acara ini memberikan wawasan dan pemahaman yang lebih dalam mengenai budaya yang ada di Indonesia. Masyarakat diajak untuk berinteraksi dan belajar satu sama lain, sehingga tercipta rasa saling menghormati.

Partisipasi Aktif Masyarakat

Partisipasi masyarakat dalam pawai ini sangat terlihat, dengan banyaknya warga yang datang untuk menyaksikan dan merayakan bersama. Keterlibatan berbagai komunitas dalam menyiapkan acara menunjukkan bahwa pawai ini adalah hasil kolaborasi yang solid. Setiap elemen yang terlibat memberikan kontribusi yang berarti terhadap kesuksesan acara ini.

Keberlanjutan Tradisi dan Inovasi Budaya

Dalam era modernisasi yang semakin berkembang, pelestarian tradisi menjadi tantangan tersendiri. Namun, acara pawai seperti ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tradisi dapat digabungkan dengan inovasi budaya. Melalui pawai ogoh-ogoh ini, kita dapat melihat bagaimana tradisi dapat terus hidup dan berkembang, tanpa kehilangan esensi dari budaya itu sendiri.

Refleksi atas Toleransi dan Kerukunan

Acara ini juga menjadi refleksi bagi kita semua untuk lebih menghargai perbedaan. Dengan mengedepankan toleransi dan kerukunan, pawai ini mengajak kita untuk menciptakan masyarakat yang harmonis. Dalam setiap penampilan dan atraksi yang ditampilkan, tersimpan makna mendalam tentang persatuan dalam keberagaman.

Pawai ogoh-ogoh cimahi bukan sekadar sebuah acara; ia adalah simbol dari harapan akan perdamaian dan kerukunan antar etnis. Melalui perayaan ini, masyarakat diajak untuk terus menjaga nilai-nilai toleransi dan saling menghargai di tengah keberagaman yang ada.

➡️ Baca Juga: Danrem 152/Baabullah Resmi Tutup TMMD Ke-127 Kodim 1514/Morotai

➡️ Baca Juga: Penyerahan LHP BPK RI, Ketua DPRD Provinsi Lampung Hadiri dan Berikan Sambutan

Related Articles

Back to top button