Orangtua Perlu Tahu, Bagaimana PP Tunas Membantu Anak Mengurangi Ketergantungan Gadget

Jakarta – Baru-baru ini, pemerintah memberlakukan larangan penggunaan media sosial bagi anak-anak yang mulai efektif pada 28 Maret. Namun, apakah langkah ini cukup untuk melindungi anak dari ancaman konten berbahaya? Novi Poespita Candra, seorang pakar perkembangan anak dan remaja dari Universitas Gadjah Mada, berpendapat bahwa Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS) dapat berfungsi sebagai perisai bagi orang tua dalam menjaga anak-anak dari risiko penggunaan media sosial secara berlebihan.

Kesadaran Kolektif dan Peran PP TUNAS

Novi Poespita Candra menjelaskan, “Kebijakan ini membuka peluang untuk meningkatkan kesadaran bersama mengenai bahaya penggunaan digital yang berlebihan pada anak-anak, terutama jika mereka belum mampu mengelola penggunaannya dengan baik.” Dia menekankan bahwa meskipun pembatasan diperlukan, pendekatan yang hanya mengandalkan larangan tidaklah cukup.

Dia menambahkan, untuk mengurangi kemungkinan anak-anak mengalami kecanduan gawai, mereka perlu dibekali dengan pendidikan dan literasi digital yang tepat. Dengan demikian, anak-anak yang sudah terbiasa dengan gadget dalam kehidupan sehari-hari harus dilatih untuk memahami dan mengelola penggunaan teknologi dengan bijak.

Pendidikan dan Literasi Digital sebagai Solusi

“Larangan yang diterapkan bersifat eksternal. Untuk mengurangi risiko kecanduan, kita perlu membangun kesadaran dari dalam diri anak melalui pendidikan, yang sering disebut literasi digital,” ujar Novi. Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan yang telah diterapkan di negara-negara maju.

Dalam konteks ini, tidak hanya di rumah, tetapi juga di sekolah, sangat penting untuk menerapkan aturan yang memberikan pemahaman kepada anak-anak agar mereka bisa menggunakan gawai secara bijak.

Contoh Praktik di Negara Lain

Sejumlah negara lainnya telah menerapkan kebijakan yang serupa, di mana selain melarang penggunaan gawai pada usia muda, sekolah-sekolah juga berfokus pada pembentukan kesadaran diri anak-anak tentang bagaimana memanfaatkan teknologi digital dengan cara yang tepat.

Novi juga menjelaskan, “Sekolah-sekolah tersebut membangun ekosistem belajar yang holistik, di mana anak-anak didorong untuk mengembangkan semua indranya melalui pengalaman langsung, seperti melihat, mendengar, menyentuh, serta berinteraksi dengan orang lain. Mereka juga didorong untuk membaca buku sebelum diperkenalkan dengan gadget di usia 13 tahun.”

PP TUNAS sebagai Pelindung Anak

Sebenarnya, peraturan yang dikeluarkan pemerintah ini tidak dimaksudkan semata-mata untuk melarang akses anak-anak terhadap dunia digital. PP TUNAS, yang resmi diluncurkan pada 28 Maret 2026, justru bertujuan untuk melindungi anak-anak dari dampak negatif media sosial.

Melalui aturan ini, PP TUNAS membatasi akses anak-anak pada platform-platform digital yang berisiko tinggi. Sebagai langkah awal, larangan ini berlaku untuk delapan platform digital yang dianggap berisiko, antara lain YouTube, TikTok, Facebook, Threads, Instagram, X, Bigo Live, dan Roblox.

Peran Orang Tua dalam Mengelola Penggunaan Gadget

Peran orang tua sangat penting dalam implementasi PP TUNAS. Mereka harus aktif terlibat dalam mendidik anak-anak mereka tentang batasan penggunaan gadget. Memberikan pemahaman tentang risiko dan manfaat teknologi dapat membantu anak-anak untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

Orang tua bisa melakukan beberapa hal untuk mendukung PP TUNAS, antara lain:

Pentingnya Kolaborasi antara Sekolah dan Orang Tua

Agar PP TUNAS efektif, kolaborasi antara sekolah dan orang tua sangatlah penting. Sekolah dapat memberikan pendidikan literasi digital yang komprehensif, sementara orang tua harus melanjutkan pendidikan ini di rumah.

Program-program yang dirancang untuk memberikan wawasan kepada orang tua tentang cara mendidik anak-anak mereka dalam penggunaan teknologi yang aman dan bertanggung jawab juga sangat diperlukan. Kegiatan seperti seminar orang tua atau workshop bisa menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman orang tua mengenai literasi digital.

Menjadi Contoh yang Baik

Orang tua juga perlu menjadi contoh yang baik dalam penggunaan gadget. Dengan menunjukkan perilaku yang bijaksana dalam menggunakan teknologi, anak-anak akan lebih cenderung mengikuti jejak orang tua mereka. Menghabiskan waktu berkualitas tanpa gadget dapat memperkuat hubungan orang tua dan anak.

Strategi Mengurangi Ketergantungan Gadget pada Anak

Selain memberikan pendidikan dan membangun kesadaran, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk membantu anak-anak mengurangi ketergantungan mereka pada gadget:

Kesimpulan

Dengan mengimplementasikan PP TUNAS dan melibatkan semua pihak, baik orang tua, sekolah, dan masyarakat, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak dalam menghadapi dunia digital. Pendidikan dan kesadaran yang tepat adalah kunci untuk membangun generasi yang lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

➡️ Baca Juga: Gara-Gara IFP, Mendikdasmen Sebut Siswa Jadi Candu Belajar

➡️ Baca Juga: Bam Adebayo Ciptakan Sejarah dengan Mencetak 81 Poin, Lampaui Rekor Kobe Bryant

Exit mobile version