Masyarakat Agraris Wonogiri Berinovasi untuk Mengatasi Tantangan Kekeringan

Ketika musim kemarau tiba, sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di Wonogiri, menghadapi tantangan serius terkait kekeringan. Tanah perbukitan yang biasanya subur berubah menjadi kering dan tandus, bahkan hujan ringan pun tidak mampu mengembalikan kelembapan tanah yang hilang akibat meningkatnya suhu bumi.

Tantangan Kekeringan di Desa Doho

Kondisi ini sangat dirasakan oleh masyarakat Desa Doho yang terletak di Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Sebagian besar lahan pertanian di desa ini tergantung pada curah hujan, dengan memanfaatkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Keduang. Ketika musim hujan berakhir, aliran sungai mengering, meninggalkan hamparan batu kali yang panas dan saluran irigasi yang tidak berfungsi.

Akibatnya, puluhan hektare sawah dan kebun terpaksa ditinggalkan tanpa tanaman atau mengalami masa kosong, yang dikenal sebagai “bero” di kalangan petani. Tanpa adanya pasokan air yang memadai, para petani kehilangan sumber pendapatan mereka. Banyak dari mereka hanya bisa menanti dengan penuh ketidakpastian datangnya musim tanam berikutnya.

Inovasi untuk Mengatasi Kekeringan

Dalam menghadapi tantangan ini, penggunaan teknologi menjadi langkah yang sangat penting untuk menjaga keberlangsungan hidup masyarakat agraris. Salah satu solusi yang muncul adalah pembangunan Embung Doho, yang dilakukan pada tahun 2017 melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan dukungan finansial dari lembaga filantropi.

Embung Doho, yang terletak di lahan perbukitan seluas 1,5 hektare, dirancang untuk menyimpan air hujan dengan kedalaman empat meter dan kapasitas tampung mencapai 15.872 meter kubik. Dengan cara ini, air hujan dapat ditangkap dan disimpan sebagai cadangan untuk digunakan selama musim kemarau.

Teknologi dan Keberlanjutan

Struktur dasar embung dilapisi dengan geomembran yang berkekuatan hingga 30 tahun, yang memungkinkan lumut tumbuh subur dan menjaga kualitas air agar tetap sehat bagi ekosistem pertanian di sekitarnya. Berkat inovasi ini, wajah pertanian di Desa Doho mulai berubah secara signifikan.

Dampak Positif Embung Doho

Kepala Desa Doho, Agus Suwatono, menjelaskan bahwa keberadaan embung sangat membantu pada masa transisi musim, khususnya antara Maret dan April. Selama periode ini, air dari embung dialirkan ke jaringan irigasi desa untuk menyuplai kebutuhan tanaman padi yang sedang memasuki fase kritis menjelang pembentukan bulir gabah.

Dengan adanya pasokan air yang terjaga, produktivitas panen para petani meningkat hingga 30 persen. Hasil panen yang sebelumnya berkisar 15 karung kini dapat meningkat menjadi 20 hingga 30 karung, yang setara dengan 1,8 ton gabah kering panen (dengan setiap karung berat 60 kilogram).

Perubahan dalam Pola Tanam

Keberadaan embung juga memungkinkan penambahan siklus tanam. Jika sebelumnya petani hanya dapat menanam dua kali dalam setahun, kini mereka dapat menambah menjadi tiga kali. Ini merupakan berita baik bagi sekitar 60 kepala keluarga petani yang langsung merasakan manfaat dari embung. Mereka kini dapat memenuhi kebutuhan harian mereka dengan lebih baik berkat ketersediaan air yang dikelola dengan efektif.

Peran Masyarakat dalam Keberhasilan Inovasi

Inovasi ini tidak hanya menguntungkan petani, tetapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan. Ketersediaan air yang lebih baik mendukung pertumbuhan ekonomi lokal dan menciptakan ketahanan pangan. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah, masyarakat Desa Doho dapat beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi tantangan kekeringan.

Desa Doho kini menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dan kolaborasi dapat mengatasi masalah lingkungan yang krusial. Dengan keberhasilan ini, diharapkan pengalaman mereka bisa menjadi model bagi desa-desa lain yang menghadapi tantangan serupa, terutama dalam konteks kekeringan yang semakin sering terjadi.

Dengan semangat inovasi dan kerja sama, masyarakat Desa Doho tidak hanya berhasil mengatasi tantangan kekeringan, tetapi juga membangun masa depan yang lebih cerah bagi generasi mendatang.

➡️ Baca Juga: Mantan Kasat Reskrim Polres Jakpus Terima Sanksi Akibat Pelanggaran Etik Terungkap

➡️ Baca Juga: Korupsi Penerimaan Mahasiswa Baru di Kampus Negeri Terungkap, KPK Selidiki Jaringan Lain

Exit mobile version