Eratosthenes: Ilmuwan Abad ke-3 yang Akurat Menghitung Keliling Bumi

Jauh sebelum teknologi modern memberikan kemudahan dalam memetakan dan memahami planet kita, manusia telah berusaha keras untuk mengukur dan mengetahui ukuran Bumi. Metode yang digunakan pun bisa dibilang sangat sederhana dan menantang: dengan mengamati bayangan yang dihasilkan oleh tongkat. Di balik inovasi ini terdapat seorang ilmuwan brilian bernama Eratosthenes.
Mengenal Eratosthenes dan Kontribusinya
Eratosthenes adalah seorang intelektual asal Yunani yang hidup pada abad ke-3 SM. Ia merupakan seorang matematikawan, astronom, dan geograf, serta dikenal sebagai kepala Perpustakaan Alexandria, yang pada masa itu merupakan pusat ilmu pengetahuan yang paling penting di dunia.
Di tengah kesibukan dan kerumunan cendekiawan yang berdiskusi di perpustakaan, Eratosthenes terobsesi dengan satu pertanyaan fundamental: seberapa besar sebenarnya Bumi ini?
Menjawab Pertanyaan Besar
Meski pertanyaan ini terlihat sederhana, pada zamannya, menjawabnya adalah tantangan besar. Tanpa adanya pesawat atau kapal yang canggih, serta tanpa alat ukur modern atau citra satelit, dunia masih dipenuhi dengan misteri yang menunggu untuk diungkap. Namun, Eratosthenes memiliki dua keunggulan yang lebih penting daripada alat-alat tersebut: rasa ingin tahu yang mendalam dan kemampuan untuk berpikir logis.
Pemicu dari Kota Syene
Suatu ketika, ia membaca laporan menarik mengenai kota Syene, yang kini dikenal sebagai Aswan di Mesir selatan. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa pada titik balik matahari musim panas, sekitar akhir Juni, matahari tepat berada di atas kepala pada saat tengah hari.
Fenomena ini sangat mencolok: sumur-sumur yang dalam mendapatkan sinar matahari hingga ke dasar, dan benda-benda tegak hampir tidak menimbulkan bayangan. Bagi banyak orang, ini mungkin hanya sekadar keunikan alam. Namun, bagi Eratosthenes, ini adalah bagian dari teka-teki yang lebih besar.
Eksperimen yang Brilian
Ia tinggal di Alexandria, yang berlokasi ratusan kilometer dari Syene. Jika benar matahari berada tepat di atas kepala di Syene pada waktu tertentu, apakah hal yang sama juga berlaku di Alexandria? Ternyata, jawabannya adalah tidak.
Di Alexandria, pada saat yang sama, tongkat yang ditancapkan tegak lurus ke tanah tetap menghasilkan bayangan. Ini menunjukkan bahwa matahari tidak tepat berada di atas kepala dan ada sudut tertentu antara cahaya matahari dan permukaan tanah. Perbedaan kecil inilah yang menjadi pintu masuk bagi salah satu eksperimen paling cemerlang dalam sejarah ilmu pengetahuan.
Mengukur Sudut dan Menghitung Keliling Bumi
Eratosthenes kemudian mengukur sudut bayangan tongkat tersebut dan menemukan bahwa nilainya sekitar 7,2 derajat. Angka ini mungkin tampak biasa, tetapi bagi Eratosthenes, itu adalah petunjuk berharga. Dengan mengetahui bahwa lingkaran penuh memiliki 360 derajat, ia menyimpulkan bahwa selisih sudut antara Syene dan Alexandria merepresentasikan sekitar 1/50 dari keliling Bumi.
Dengan kata lain, jika ia dapat mengetahui jarak antara kedua kota tersebut, maka keliling Bumi dapat dihitung dengan mengalikan jarak itu dengan 50. Jarak antara Syene dan Alexandria diperkirakan sekitar 5.000 stadion, yang merupakan satuan panjang yang umum digunakan pada masa itu.
Hasil Perhitungan yang Mengesankan
Dari perhitungan yang dilakukan, Eratosthenes memperoleh estimasi sekitar 250.000 stadion. Banyak sejarawan modern menyepakati bahwa angka ini dapat dikonversi menjadi sekitar 39.000 hingga 46.000 kilometer, tergantung pada ukuran stadion yang digunakan.
Berdasarkan pengukuran modern yang dilakukan oleh organisasi internasional, seperti World Geodetic System 1984 (WGS 84), keliling Bumi di bagian khatulistiwa mencapai sekitar 40.075 km, sedangkan keliling dari kutub ke kutub adalah sekitar 40.008 km. Dengan demikian, hasil perhitungan Eratosthenes lebih dari dua ribu tahun yang lalu sangat mendekati nilai modern ini.
Warisan Ilmiah Eratosthenes
Keberhasilan Eratosthenes dalam menghitung keliling Bumi bukan hanya sekadar pencapaian individu, tetapi juga merupakan tonggak penting dalam sejarah ilmu pengetahuan. Metode yang ia kembangkan menjadi inspirasi bagi generasi ilmuwan berikutnya.
Inovasi ini menunjukkan bahwa dengan pemikiran yang kritis dan penggunaan metode observasi yang tepat, seseorang dapat mencapai hasil yang luar biasa, bahkan dalam keterbatasan teknologi yang ada pada masa itu.
Peran Ilmu Pengetahuan dalam Peradaban
Pemikiran dan metode yang digunakan oleh Eratosthenes menunjukkan pentingnya ilmu pengetahuan dalam membentuk peradaban. Dengan menggunakan logika dan pengamatan, ia dapat mengungkapkan fakta-fakta yang mendasar mengenai dunia kita.
- Pengukuran Bumi adalah salah satu pencapaian awal yang menunjukkan kemampuan manusia untuk memahami dan menjelaskan dunia di sekitar mereka.
- Inovasi Eratosthenes menjadi dasar bagi perkembangan ilmu geografi dan astronomi di masa mendatang.
- Keberaniannya untuk bertanya dan mencari jawaban menjadi contoh bagi ilmuwan berikutnya.
- Metode pengukuran yang ia gunakan mendemonstrasikan kekuatan matematika dalam menjelaskan fenomena alam.
- Warisan pemikirannya tetap relevan dan diapresiasi hingga saat ini.
Kesimpulan yang Mendasar
Kisah Eratosthenes bukan hanya tentang pengukuran keliling Bumi, tetapi juga tentang semangat penemuan dan keinginan untuk memahami dunia. Melalui usahanya, kita diajarkan bahwa ilmu pengetahuan memerlukan rasa ingin tahu, keberanian untuk bertanya, dan kemampuan untuk berpikir kritis. Eratosthenes, dengan segala keterbatasan zamannya, telah mengukir namanya dalam sejarah sebagai salah satu ilmuwan terkemuka yang berhasil menjawab salah satu pertanyaan terbesar umat manusia.
➡️ Baca Juga: BRIN Kembangkan Teknologi Pemurnian Minyak Atsiri untuk Meningkatkan Daya Saing Global



