kpkgg
Megapolitan

Rano Karno Memfasilitasi Kolaborasi Literasi dan Sejarah Jakarta di Festival Pustakarsa 2026

Jakarta – Dalam upaya memperkuat budaya literasi dan menjaga warisan sejarah, Rano Karno, Wakil Gubernur DKI Jakarta, berkomitmen untuk memfasilitasi kolaborasi antara perpustakaan, lembaga kearsipan, galeri seni, dan museum. Inisiatif ini bertujuan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dan sejarah Jakarta, terutama bagi generasi muda yang menjadi harapan masa depan bangsa.

Festival Pustakarsa 2026: Momen Penting dalam Dunia Literasi

Pernyataan tersebut disampaikan Rano ketika membuka Festival Pustakarsa (Perpustakaan, Kearsipan, dan Sastra) 2026 di Galeri Emeria Soenassa, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Rabu, 14 Oktober 2026. Festival yang dijadwalkan berlangsung hingga 22 Oktober 2026 ini menawarkan berbagai kegiatan menarik, termasuk pameran naskah kuno, aktivitas literasi, penghargaan untuk karya sastra, dan apresiasi terhadap kearsipan.

Menurut Rano, kemajuan Jakarta sebagai kota global tidak hanya diukur dari aspek ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Dia menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang didorong oleh pengetahuan, kreativitas, dan kebudayaan sebagai bagian integral dalam pembangunan kota yang berkelanjutan.

Pentingnya Pengetahuan dan Budaya dalam Masyarakat

“Sebagai kota yang mengusung status global, Jakarta tidak cukup hanya berpacu dalam ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga harus memiliki masyarakat yang kaya pengetahuan, kreatif, dan berbudaya. Literasi, kearsipan, dan sastra memainkan peran vital dalam membentuk masyarakat yang demikian,” ungkap Rano.

Ia menegaskan bahwa perpustakaan dan lembaga kearsipan perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengenalkan budaya membaca melalui konten kreatif, seperti ulasan buku digital, vlog, dan video pendek di platform media sosial.

Konsep GLAM: Kolaborasi untuk Penyebaran Pengetahuan

Rano juga mendorong penerapan konsep GLAM, yaitu Galeri, Perpustakaan, Arsip, dan Museum, untuk memperkuat penyebaran pengetahuan sejarah kepada masyarakat. Dengan mengintegrasikan arsip sejarah ke dalam pameran seni dan karya visual, informasi mengenai perjalanan Jakarta dapat disampaikan dengan lebih mudah dan menarik.

“Kolaborasi dengan galeri seni dan museum di Jakarta perlu didorong lebih lanjut, seperti menggabungkan arsip sejarah dengan pameran dan karya visual. Dengan cara ini, sejarah kota tidak hanya tersimpan, tetapi juga dapat dinikmati dan dipelajari oleh masyarakat melalui ruang publik yang edukatif dan interaktif,” tambahnya.

Indikator Pembangunan Manusia dan Literasi di Jakarta

Rano juga memaparkan beberapa indikator yang mencerminkan kondisi pembangunan manusia dan literasi di Jakarta. Pada tahun 2025, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jakarta tercatat mencapai 85,05, sementara Indeks Budaya Literasi berada di angka 78,76 dan aktivitas membaca masyarakat mencapai 82,49 persen.

Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi untuk memperluas akses terhadap pengetahuan dan menjadikan budaya membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Festival Pustakarsa juga berfungsi sebagai platform penghargaan bagi penerbit, perangkat daerah, badan usaha milik daerah (BUMD), dan arsiparis yang telah berkontribusi dalam pengelolaan kearsipan.

Memperingati 500 Tahun Jakarta: Pelestarian dan Penguatan Identitas

Menjelang peringatan 500 tahun Jakarta, Rano menegaskan bahwa upaya pelestarian arsip, penguatan budaya baca, dan pengembangan sastra harus terus dilakukan untuk mempertahankan identitas kota. Dia menegaskan, catatan sejarah tidak hanya perlu disimpan, tetapi juga harus dibuka aksesnya agar dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Arsip merekam perjalanan kota, literasi memperluas wawasan masyarakat, dan sastra memberikan ruang bagi gagasan dan pengalaman untuk terus hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Pameran Naskah Kuno: Memperkenalkan Kekayaan Sejarah

Festival Pustakarsa 2026 juga akan menampilkan pameran 12 naskah kuno yang telah ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada tahun 2025. Pameran ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan warisan pengetahuan kepada masyarakat luas.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, mengungkapkan bahwa pelestarian arsip dan manuskrip merupakan bagian dari langkah persiapan menjelang lima abad Jakarta. Langkah ini diambil untuk menjaga rekam jejak perjalanan kota dan memastikan arsip dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan lintas generasi.

Menjaga Memori Kolektif Bangsa

“Persiapan menyongsong 500 tahun Jakarta tentu melibatkan upaya untuk mendorong ingatan kota melalui arsip dan manuskrip yang akan menjadi bagian dari memori kolektif bangsa hingga diakui sebagai Memory of the World,” jelas Nasruddin.

Dengan berbagai upaya ini, Festival Pustakarsa 2026 diharapkan dapat menjadi jembatan bagi masyarakat untuk lebih memahami, menghargai, dan merayakan kekayaan budaya dan sejarah Jakarta. Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi muda dapat lebih terinspirasi untuk aktif berkontribusi dalam pelestarian budaya literasi dan sejarah yang merupakan warisan berharga bagi bangsa.

Dengan kolaborasi yang erat antara berbagai lembaga, Festival Pustakarsa 2026 akan menjadi momentum penting dalam memperkuat budaya literasi dan sejarah di Jakarta, serta mendorong masyarakat untuk semakin mencintai membaca dan mempelajari sejarah kotanya.

➡️ Baca Juga: Warga Rejasari Tuntut Pemecatan Dua Perangkat Desa Setelah Hampir Sebulan Tak Masuk Kerja

➡️ Baca Juga: Harga Emas Antam Terkoreksi: Update Terkini dan Faktor Pendorongnya per 12 Maret 2026

Related Articles

Back to top button