slot depo 10k slot depo 10k
Nasional

Kelola Sampah Organik Menggunakan Maggot dan Komposter Sederhana di Era Krisis Sampah

Persoalan pengelolaan sampah organik semakin mendesak di berbagai daerah, terutama di wilayah dataran tinggi. Di Desa Mandalamekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, warga menghadapi masalah serius terkait pengelolaan limbah domestik. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari solusi yang dapat diterapkan di tingkat rumah tangga. Dalam konteks ini, program pengabdian masyarakat yang digagas oleh tim dosen dari Bhakti Kencana University (BKU) berfokus pada penerapan teknik pengolahan sampah organik menggunakan maggot, biopori, dan komposter sederhana. Program yang diberi nama “MaggotCare Plus sebagai Biokonversi Sampah Organik di Dataran Tinggi” ini melibatkan 30 kader Posyandu dari RW 10 Desa Mandalamekar dan bertujuan untuk memberikan solusi praktis terhadap permasalahan sampah yang semakin memburuk.

Pentingnya Pengelolaan Sampah Organik

Di kawasan dataran tinggi, masalah pengelolaan sampah bukan hanya sekadar isu estetika, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan. Banyak warga yang masih mengandalkan cara-cara tradisional, seperti membakar sampah, yang jelas berpotensi menimbulkan masalah pencemaran udara serta dampak kesehatan lainnya. Keterbatasan tempat pembuangan dan sistem pengangkutan sampah yang tidak memadai menyebabkan masyarakat terpaksa mencari alternatif lain. Oleh karena itu, pengelolaan sampah organik dengan pendekatan yang inovatif dan ramah lingkungan menjadi sangat penting.

Identifikasi Masalah Melalui Survey Mawas Diri (SMD)

Melalui Survei Mawas Diri yang dilakukan, terdapat 11 permasalahan yang diidentifikasi, dengan pengelolaan sampah menjadi salah satu isu prioritas. Musyawarah Masyarakat RW (MMRW) pada 18 Desember 2025 menegaskan urgensi untuk menangani masalah sampah di RW 10. Dengan adanya program ini, diharapkan masyarakat tidak hanya memahami pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga dapat menerapkan solusi yang efektif di lingkungan mereka.

Program MaggotCare Plus

Program ini bertujuan untuk menjembatani antara ilmu pengetahuan yang ada di akademik dan kebutuhan masyarakat. Ketua pelaksana program, Diah Adni Fauziah, menekankan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu cara untuk memastikan bahwa pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi dapat memberikan dampak positif secara langsung. Program ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga praktik langsung kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah.

Pendidikan dan Praktik Langsung

Kegiatan dilakukan dalam dua sesi pada tanggal 19 dan 28 Juni 2026. Pada sesi pertama, peserta diperkenalkan dengan konsep biopori, komposter, dan maggot melalui metode yang interaktif. Sesi kedua mengajak peserta untuk secara langsung mempraktikkan pembuatan dan penggunaan biopori, komposter, serta kandang maggot. Penggunaan permainan tradisional dan teknologi digital dalam proses pembelajaran sangat efektif dalam meningkatkan keterlibatan peserta.

  • Permainan bakiak untuk mengajarkan konsep biopori.
  • Permainan congklak yang dikaitkan dengan pengelolaan sampah.
  • Penggunaan ketapel sebagai media untuk menyampaikan informasi.
  • Pembuatan permainan KOMPAK yang mengedukasi tentang komposter.
  • Integrasi antara permainan tradisional dan teknologi digital.

Evaluasi dan Perubahan Sikap

Setelah kegiatan, evaluasi menunjukkan adanya peningkatan sikap positif peserta terhadap pengelolaan sampah sebesar 21,42%. Pengetahuan mengenai biopori meningkat sebesar 21,47%, sementara pemahaman tentang komposter sederhana mengalami kenaikan sebesar 7,1%. Hasil ini menggembirakan karena menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat.

Implementasi di Kehidupan Sehari-hari

Monitoring satu bulan setelah pelaksanaan program menunjukkan bahwa 90% peserta telah menerapkan teknik pengolahan sampah yang diajarkan. Hanya 10% yang masih memerlukan pendampingan lebih lanjut. Tim pengabdian masyarakat berkomitmen untuk memberikan tutorial langsung di rumah masing-masing peserta untuk memastikan penerapan teknik yang benar.

Manfaat Ekonomi dari Budidaya Maggot

Selain mengurangi jumlah sampah organik, program ini juga membuka peluang ekonomi baru melalui budidaya maggot. Maggot hasil biokonversi sampah tidak hanya berfungsi untuk mengolah limbah, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang memiliki nilai jual. Dengan cara ini, masyarakat dapat merasakan manfaat ekonomi dari pengelolaan sampah yang lebih baik.

Pendukung Pengelolaan Komunal

Untuk mendukung pengelolaan sampah secara komunal, tim menyediakan dua tong komposter besar yang dapat digunakan oleh beberapa rumah. Kandang maggot juga disediakan di lokasi strategis untuk memfasilitasi pengolahan sampah secara kolektif. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah di lingkungan mereka.

Pendapat Masyarakat dan Keterlibatan

Menurut Sekretaris Desa Mandalamekar, Ating Sumarni, program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam mengatasi tantangan pengelolaan sampah. Warga kini memiliki alternatif untuk mengolah sampah, sehingga mengurangi tumpukan limbah yang selama ini menjadi masalah. Ketua RW 10, Asep Heri, juga menambahkan bahwa stimulasi dan pendampingan pengelolaan sampah sangat diperlukan oleh masyarakat, mengingat hasil pengolahan dapat dimanfaatkan kembali untuk kebun warga.

Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan

Program pengelolaan sampah ini tidak selesai setelah pelatihan. Tim melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk menilai pemanfaatan alat, keterampilan warga, serta tantangan yang dihadapi dalam penerapan metode pengolahan sampah. Monitoring dilakukan pada 24 Juli dan 19 Agustus 2026 dengan mengunjungi berbagai lingkungan di RW 10.

Strategi Pengelolaan Sampah Berdasarkan Wilayah

Dalam implementasinya, pengelolaan sampah organik dibagi berdasarkan wilayah. RT 2 dan RT 3 difokuskan pada penggunaan biopori dan komposter, sedangkan RT 1 menjadi lokasi pengelolaan maggot. Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang sesuai dengan karakteristik lingkungan setempat. Melalui model ini, diharapkan setiap RW di Desa Mandalamekar dapat mengadopsi dan menerapkan sistem pengelolaan yang lebih terpadu.

Replikasi Model Pengelolaan Sampah

Tim berharap bahwa model pengelolaan sampah yang telah dikembangkan ini dapat menjadi contoh yang bisa diadopsi oleh RW lainnya di Desa Mandalamekar. Dengan tidak adanya sistem pengelolaan sampah terpadu di seluruh RW, inisiatif ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat. Program ini merupakan hasil kerja tim multidisiplin dari Bhakti Kencana University, termasuk Diah Adni Fauziah, Reza Pratama, dan Nur Intan Hayati Husnul K., serta mahasiswa yang aktif terlibat dalam pelaksanaan program.

Dengan dukungan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, program ini menjadi bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang berfokus pada kemitraan dengan masyarakat. Di tengah krisis sampah yang semakin memburuk, pendekatan inovatif seperti ini menjadi sangat penting untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan.

➡️ Baca Juga: Perbaiki Pola Tidur Anda dengan Cara Ampuh bagi yang Sering Begadang

➡️ Baca Juga: Real Madrid vs Man City Tayang di Mana? Ini Jadwal dan Link Live Streamingnya

Related Articles

Back to top button